Melawan Punah
Kolhua, Minggu 29 Mei 2022, merupakan hari paling bersejarah bagi etnis Helong di Kelurahan Kolhua, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur. Sebuah pameran Budaya Helong untuk pertama kali digelar dan menjadi satu-satunya Pameran yang di selenggarakan oleh Komunitas Penjaga Budaya Helong, lokasi yang dipilih adalah Taman Baca Uibaha di Kelurahan Kolhua.
Ket foto : Pameran Budaya Helong 29 Mei 2022 di Kolhua
Etnis Helong dikenal dari bahasanya, Helong, sebagaimana disebut Endangered Languages Project, dan di sejumlah situs dijelaskan yang mana dalam bahasa Helong dikenal ada tiga dialek: Bolok, Kolhua dan Uitao. Penuturnya terdapat di desa-desa di ujung barat Pulau Timor dekat pelabuhan Tenau, Kota Kupang hingga Amarasi, dan sebagian besar desa di Pulau Semau. Selain bahasa, etnis Helong dikenal dengan kain tenunnya.
Kolhua merupakan salah satu dari 51 Kelurahan yang ada di Kota Kupang dan Kolhua merupakan tempat tinggal bagi Etnis Helong dengan populasi terbesar di Kota Kupang.
Ket foto : Seman Bihata, Seman Atuli dan Po'uk.
Sejak Kota Kupang berdiri menjadi Kota Madya pada tahun 1996 Pemerintah Kota Kupang menggunakan semboyan yang ada di logo Kota Kupang yaitu “Lil Au Nol Dael Banan” yang artinya bangunlah aku dengan hati nurani yang tulus. Ini adalah bahasa Helong yang menjadi bahasa ibu bagi orang Helong dimanapun berada, Etnis Helong menjadi tuan dan nyonya rumah di Kota Kupang.
Upaya melestarikan Budaya Helong lahir dari keresahan akan kepunahan tradisi dan kebudayaan di tengah arus globalisasi yang tak terbendung. Orang-orang muda yang tergabung dalam Komunitas Penjaga Budaya Helong yang menggagas kegiatan tersebut dan berperan aktif dalam pameran.
Upaya itu dilakukan tidak hanya bagi Komunitas Penjaga Budaya Helong dan kaum muda. Tapi bagi anak-anak di Taman Baca Uibaha, pengenalan Kebudayaan Helong dimulai dari membiasakan mereka memakai kain tenunan dan belajar berbahasa Helong.
Pameran tersebut di kemas dengan penuh nuansa budaya yang menampilkan tenun ikat, tarian adat, musik tradisional, pangan lokal, hingga menampilkan cara perempuan Helong menenun dan mengayam, pameren ini dibuat untuk melestarikan budaya Helong sebab kita tahu bahwa di era globalisasi ini masyarakat khususnya kaum muda sangat dipengaruhi oleh budaya barat, untuk itu Komunitas Penjaga Helong membuat pameran ini untuk mengajak kaum muda untuk mencintai budayanya.
Ket Foto :Pameran Pertama Kali Budaya Helong di Kolhua
Dalam kesempatan ini Komunitas Penjaga Budaya Helong menyelenggarakan Pameran dengan Thema “Melawan Punah”.
Kita tahu dengan semakin majunya Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, maka informasi-informasi apa saja dengan mudah sampai ke Indonesia. Seiring dengan inilah, semakin lama semakin memudarkan semangat putra putri bangsa dengan budaya daerah sendiri. Seperti suku Helong yang hampir punah di Era globalisasi yang memudahkan budaya asing masuk ke Negera kita melalui media, majalah, dan sebagainya. Sehingga kita lebih tertarik dengan budaya asing, dan tertarik untuk mempelajarinya,
Sebagai bangsa Indonesia yang menganut adat budaya timur, seharusnya kita bisa memfilter diri kita untuk bisa menerima budaya-budaya apa saja yang baik dan yang kurang baik. Akan tetapi saat ini budaya barat hampir menguasai anak muda pada zaman ini.
Memang pengaruh budaya asing yang melanda Indonesia memang tidak bisa kita hindari, hanya saja kita harus benar-benar pandai dalam memilih budaya dan kebiasaan yang baik yang tidak bertentangan dengan agama dan sesuai dengan adat istiadat.
Apalagi sekarang tengah digalakkan hari Kamis sebagai hari pakaian adat di NTT, itu adalah salah satu semangat membudayakan budaya bangsa Indonesia khususnya di NTT, seharusnya kita dapat berpartisipasi penuh, kita sadar, kita telah melunturkan jati diri kita. Perkembangan mode yang sekarang juga mengubah citra mode Tenun yang tidak kalah gaulnya. Kita harus bangga dengan kebudayaan kita, bahkan orang-orang dari luar negeri yang datang untuk mengunjungi dan melihat kebudayaan kita, jadi mengapa kita tidak bisa melakukannya.
Melestarikan budaya daerah sendiri juga bertujuan agar kebudayaan kita tidak punah, mengenal budaya bermanfaat karena dapat menambah wawasan kita mengenai daerah kita lebih jauh, juga dapat menambah wawasan tentang budaya adat istiadat.
Pertanyaan bagi kita semua apa yang paling menyedihkan dari mati?, jawabannya adalah Punah. Komunitas Penjaga Budaya Helong dan kaum muda menolak punah di tanah Timor, di tanah dimana leluhur kami menapakkan kaki, menulis sejarah penuh makna di Kota Kupang.
“Lil Au Nol Dael Banan” ( bangunlah aku dengan sepenuh hati) begitulah semboyan kota Kupang yang diambil dari bahasa orang Helong. Sayang upaya pemusnahan sedang digalahkan Pemerintah dengan sepenuh hati. Rencana Pembangunan yang tidak tepat sasaran di Kolhua menjadi rencana mulus proses penghancuran etnis Helong dan segala kebudayaannya di Kota Kupang.
Jangan diam, jangan lengah mari belajar, satukan kekuatan dan gerak bersama melalui upaya-upaya menolak punah masyarakat Helong dalam kegiatan-kegiatan Budaya Helong.
Oleh karena itu marilah kita belajar untuk mencintai budaya Helong yang ada di NTT. Semestinya kita merasa bangga dan bersyukur bernegara Indonesia dengan segala kekayaan budayanya. Marilah kita mencintai budaya Helong yang ada di Kolhua karena sangatlah khas dan unik dan tidak ada yang menyamainya. Tenunan dari para perempuan Helong dengan motif yang beragam dan warna yang corak memiliki arti yang mendalam dan menghasilkan Seman Atuli mo Seman Bihata (sarung perempuan dan sarung laki-laki) nol po’ok le kit lose ( dan salempang untuk kita pakai). Anyaman Krihang (nyiru), puli (bakul), iha (kipas), knehe (tikar), kit ingka ngae loto (makan jagung katema), ngae hai (jagung bose), bukrengen (singkong), bua (pisang), inmama (makan siring dan pinang), terus kita lestarikan sampai kepada anak cucu kita sehingga tetap terjaga.
Inilah budayaku Helong!
Salam Kompak
Menolak Punah.























Keren sekali ini
BalasHapusMakasi kk Widi
BalasHapus