Musim Panen Di Tanah Leluhur Kolhua

Petani adalah seseorang yang bekerja di bidang pertanian di ladang, sawah dan lain-lain, utamanya dengan cara melakukan pengelolaan tanah dengan tujuan untuk menumbuhkan dan memelihara tanaman ( :UU 19 Tahun 2013) .

Awal Juni yang biasanya diperingati sebagai hari lahirnya Pancasila berubah jadi saat penuh Rindu dan Benci. Rindu yang sama datang setiap tahun saat Musim Panen atau koru padi di Kelurahan Kolhua, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, NTT dengan penuh rindu menantikan saat panen atau koru padi. Namun ada Benci yang sama datang saat ada isu terkait rencana bendungan Kolhua mencuat.


                 Ket Foto : Sawah As'efe 4 Juni 2021

Seperti Lirik Lagu Franki dan Jane

Sekumpul petani di sawah

Sedang memetik padi

Kadang berdiri kadang membungkuk

Memakai topi lebar

Keringat jatuh kaki berlumpur

Mereka memetik terus

Karena seribu padi yang kuning

Menanti untuk disentuh

Burung bangau terbang menari

Gembira melihat kebawah

Anak desa telanjang dada

Duduk di persimpangan petak sawah

Sambil bermain harmonika.


Pertanyan bagi kita semua mengapa petani Kolhua rindu menyambut musim panen padi:

Sebagian anak Kolhua asli,  saya sering merasakan hal ini di saat musim kemarau pada saat panen atau koru padi tiba. Tentu saya bercerita dari pengalaman saya sendiri dulu. Saya selalu bertanya pada Bapa (Alm) atau mama, kapan saat panen atau koru padi tiba. Sepulang sekolah atau kulia saya berlari-lari menuju ke sawah dan ladang As'efe, tempat kedua orangtua kami bekerja. 

Rindu saya waktu itu seperti gula dan kopi hitam yang di campur, Rindu berjumpa dengan bapa, mama dan saudara-saudara saya. Tapi juga rindu bicara tentang datangnya musim panen atau koru padi.

Menantikan musim panen padi atau lebih di kenal koru padi merupakan saat menumpuk rindu. Iya, sebagai petani Kolhua ada rupa-rupa kerinduan: rindu makan bubur dari beras baru yang aromanya wangi, rindu bermain di atas jarami padi bagi anak-anak dan mandi di kali.

Ket foto : Koru Padi As'efe, 4 Juni 2021

 Rindu yang Kedua Saat menantikan syukuran panen, entah kenapa di Gereja saya GMIT Imanuel Kolhua, kami sering melakukan kebaktian Syukur panen atau Ulu Hasil, pertama dan maksud dibuatnya syukuran atau kebaktian ulu hasil adalah mengumpulkan semua hasil panen dari setiap Jemaat. kebaktian  ini sangat sederhana yakni  beribadah mensyukuri hasil panen padi setiap tahun dan mempersiapkan lahan untuk tahun depan.

Kebaktian ini hanya dilakukan di Gereja, Mungkin sudah jadi tradisi dari nenek moyang kami. Bapa saya pernah pernah bercerita tentang hal ini. Tentunya setiap insan punya cara dan keyakinan sendiri beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Begitupun kami melakukan itu dengan setia setiap tahun setelah panen atau koru padi. 

Bagi petani tradisional seperti kami, Koru padi itu merupakan saat yang tidak bisa dipisahkan dari pengakuan akan adanya wujud Tertinggi yaitu Ama Lamtua (Tuhan Yang Masa Esa. Wujud Tertinggi itu bagi kami adalah pemberi berkat bagi segala usaha kami. Karena itu, tidak heran sebenarnya kebaktian sebelum dan sesudah panen setiap tahun dilakukan dengan teratur. itu adalah keyakinan bagi kami, harus dilakukan dengan kesetiaan, keiklasan yang berakar pada hati. 

Tradisi panen atau koru padi dengan membuat kelompok tani tujuan mengumpulkan orang sambil bekerja sama, bernyanyi dan bercanda demi kebersamaan, bagi petani tradisional Kolhua merupakan sarana persaudaraan dan juga seperti suatu nyanyian perjuangan. nyanyian bersama-sama tanpa ada sekat pemisah suara. Suara merdu ditengah hutan belantara Kolhua, dengan panorama hijau, kuning alam yang indah, sejuk dan hangat, semua paduan itu bagi saya menjadi semacam suatu momen mesra ala petani Kolhua. 

Petani-petani Kolhua itu mampu menciptakan keindahan, mereka mampu menciptakan irama yang memberi nuansa merdu suara secara bersama-sama. Saya ingin sekali mendengar lagu Lupu kruman-kruman yang sering dinyayikan oleh para tua adat Helong. Andaikan nanti masih punya kesempatan untuk koru padi dan mendengarkan lagu tersebut suatu hari nanti, takutnya koru padi hanya menjadi sebuah dongeng.

Ada sedikit keresahan yang mencuat saat ini karna daerah yang kami jaga dan rawat  dengan luas persawahan yang begitu indah sekitar 82, 22 Ha akan dibuat satu "Ekat " atau penampungan air terbesar di Kota Kupang yang biasa orang kenal Bendungan, tempat kami biasa bermain mandi di kali As'efe dan Lihu Nunu satu persatu mungkin akan ditengelamkan, satu persatu Saudara, sahabat, keluarga pergi meninggalkan tanah leluhur yang kami cintai.

Untuk itu kita perlu menjaga tanah leluhur dan kearifan lokal yang mulai pudar seiring berkembangnya jaman dan berkurangnya minat anak muda menjaga tanah leluhur dan menjadi seorang petani, mengingat tanah kita adalah wilayah agraris atau tepat di jalur khatulistiwa yang mana tepat di bawah jalur orbit matahari yang sangat baik untuk bidang pertanian sepanjang tahun dibandingkan negara lain.

Bagi orang Helong tanah adalah penyambung kehidupan dan harga diri. 


B O B L I N G I N








Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pusat Penelitian Budaya Helong

Alam dan Suku Helong Kolhua

Arti Sebuah Nama