Mama Kornalia Penjual Sayur Yang Sukses Kuliahkan Anak-Anak

Mama Kornalia Penjual Sayur Yang Sukses Kuliahkan Anak-Anak.

Nasib seseorang tidak ada yang bisa menebak. Selama seseorang terus berjuang mencari rejeki, Tuhan pasti akan memberikan apa yang mereka harapkan. Berbekal ketelatenan dan kesabaran, begitu banyak orang-orang pinggiran yang berhasil mengantarkan anak-anak mereka menuju cita-cita yang diharapkan.

Foto : Sawah As'efe 

Salah satu dari mereka adalah Mama Kornalia Bistolen (70) penampilan yang sangat sederhana membuat siapa pun yang bertemu dengannya senang karna semangat kerja dan ramah dengan semua orang.

Mengenakan sarung, baju kaos dan rompi berwarna biru tanpa alas kaki, mama Kornalia duduk dibedeng yang dibuat untuk menanam sayur-sayuran sawah di Uibaha, Kelurahan Kolhua, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, NTT

Di hadapannya, sudah terbentang "Sapaik" bahasa Helong (bakul)  dan lepak (kayu untuk memikuk) yang berukuran sedang yang masih kosong. Mama Kornalia pun lantas membungkuk dan langsung melakukan aktivitas mencabut /memotong sayur.

Ditemani cucu dan saudaranya, Mama Kornalia yang suka ngobrol (atau dalam bahasa Kupang Ba'omong) lantas mengambil satu per satu sayur dari bedeng untuk dimasukan ke dalam sapaik (bakul)

Selain sayur putih, ada juga tomat, jagung, kacang-kacangan yang dipetik dan dikumpulkan kemudian siap dijual ke Pasar Inpres Naikoten.

Uang hasil jualan sayuran digunakan oleh  Mama Kornalia untuk keperluan makan minum sehari-hari dan tentunya tabungan untuk modal sekolahkan anak-anak.

Rutinitas itu sudah Mama lakukan sejak anak-anaknya masih kecil, secara rutin setiap tahun dengan  menjual sayur-sayuran di pasar dan mengelola sawah milik bersama Bapak Marthin Bistolen (Alm).

Mama Kornalia Ba'omong (berbicara) "mama sonde mau membebani anak-anak, Mama kerja sendiri untuk makan sehari-hari su cukup,"

Walaupun anaknya telah selesai kulia dan kerja, namun Mama Kornalia tak lupa selalu menasihati anak-anak untuk bekerja dengan baik.

"Mama selalu pesan buat anak-anak untuk kerja yang baik, jaga nama baik keluarga dan jangan lupa berdoa, Ora Et Labora,"

Foto : Sawah luar/Blapa

Bangga

Sebagai anak, kami sudah melarang mama berjualan sayur di pasar Inpres Naikoten.

"Mama menjawab, jualan sayur itu hobi bukan jualan untuk kaya jadi sonde (tidak) usa larang, yang penting mama masih sehat.

Mama pernah berkunjung ke Jakarta namun tidak dalam waktu yang lama,  paling lama hanya 14 hari, karena mama ingin pulang kampung untuk bekerja menanam sayur, mengurus sawah dan ternak-ternak.

Hal yang membuat kami bangga adalah setiap kali mama dan anak-anaknya berkumpul, mama selalu berdoa dan  menyiapkan oleh-oleh Kue Solo (cucur) untuk anak-anaknya sebagai bekal dan uang saku untuk jajan dan beli buku.

Sifat pekerja keras dan bertanggung jawab dengan pekerjaannya yang membuat kami bangga sebagai anak.

Pelajaran dan Hikmah 

"Kerja keras, kerja tanggung jawab sampai tuntas dan berdoa ini menjadi pelajaran yang sangat berharga buat diri kami sampai saat ini, kami pegang teguh dalam hidup,"

"Saat ini Mama dalam usia yang sudah 70 tahun, masih tetap kerja kebun dan sawah bersama anak dan cucu, Tentu hal yang sangat berharga buat saya. Mama selalu mengatakan kepada kami bahwa, nikmatilah keringatmu sendiri lebih berharga dan tidak boleh ambil hak orang lain.

Tetap sehat dan Tuhan memberkati😇
Terima kasih Mama Honi


Rally Bistolen





Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pusat Penelitian Budaya Helong

Alam dan Suku Helong Kolhua

Arti Sebuah Nama