Kisah Anak Petani Meraih Sarjana

"Kisah Anak Petani Meraih Sarjana"


Tidak seorangpun tau dimana dan kapan dia dilahirkan? Kami adalah orang yang terlahir dari keluarga yang berprofesi sebagai petani dan peternak, tanah dan lumpur menjadi teman bermain dikala pagi menjemput dan sore yang beranjak pulang keperaduan, membentang jauh disana ada satu tempat bernama "Uibaha" bahasa Helong (mulut air) disana cerita anak Petani  Ujung Aspal Uibaha dimulai dan bermimpi setinggi langit, seperti pepatah lama yang kami dengar.

Ini kisah tentang Rally dan Septy yang mempunyai cita-cita menjadi seorang sarjana muda dan kelak berhasil dibidangnya masing-masing,  awalnya kami berpikir tidak mungkin seorang anak Petani yang miskin dan hidup di Ujung Aspal Uibaha, Kota Kupang (Kota Kasih) akan berhasil.

Foto : Wisuda S1 UNIKA, Wisuda S2 Trisakti ,Wisuda S1 Septy dan Sumpah Advokat

Saat semangat mengebuh ternyata Tuhan berkata lain tulang punggung keluarga yang selama ini menjadi sandaran hidup di panggil pulang ke rumah Bapak di Sorga, tentunya hilang harapan dan sangat memiluhkan, saat itu kami berdua masih duduk dibangku SMA, berat rasanya untuk berkata melanjutkan studi karna  tidak ada biaya sama sekali, semua keuangan digunakan untuk pengobatan Sang Ama/Ayah yang saat itu terkena stroke dan tidak dapat beraktivitas seperti biasa, saat itu merupakan kegelisahan terbesar sebab tidak ada motivator untuk kami berdua dan  permasalahan keluarga yang begitu rumit.

"Dibalik awan gelap tentunya ada pelangi" .  Ada harapan yang terucap dari bibir Ina/Mama bahasa Helong " Auk Muik Sasa lo,  tapi Mib Duam harus skola", artinya " Saya tidak punya apa-apa,  tapi kalian berdua harus sekolah" mendengar kalimat ini kami sangat termotivasi dan terberkati, saat itu kami bertekat harus berhasil, waktu demi waktu terus berlalu,  jatuh bangun kami lalui di perguruan tinggi,  kami harus bersaing dengan  teman-teman yang datang dari keluarga kaya dan ekonomi yang jauh lebih baik dari kami, tapi kami tidak berkecil hati untuk itu.

Ada satu kalimat yang menarik dan memotivasi yakni "Perasaan terhina adalah obat yang manjur untuk melecut diri, bangkit, bergerak, memenangkan kebanggan diri serta mengangkat derajat keluarga ditengah himpitan hidup.

Bertani (siram sayur) dan berternak (sapi dan babi) menjadi modal untuk bangkit dari keterupukan ekonomi,  hasil dari bertani dan berternak digunakan untuk biaya kulia, Puji Tuhan semua berjalan dengan baik. "Janji Tuhan Ya dan Amin".

Seperti firman Tuhan berkata "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu". Mat 7 : 7.

Hari terus berganti setiap tetes air mata dan keringat Tuhan perhitungkan, berkat terus datang dari orang-orang yang terkasih dalam hal ini saudara,  peran seorang kaka (Micky, Riny dan Aleksius) mempunyai andil penting dalam melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi,  sokongan dana dan Doa terus diucapkan kepada Sang Pemilik Kehidupan sehingga berkat terus tercurah, kami pun berhasil dengan hasil yang tidak mengecewekan, sesuai dengan target.

Teringat sebuah penyair hebat berkata :
The person you consider ignorant and insignificant is the one who came from God, that he might learn bliss from grief and knowledge from gloom. 

Orang yang kamu pikir bodoh dan tidak penting adalah seseorang yang datang dari Tuhan, yang mungkin mempelajari kebahagiaan dari kesedihan dan pengetahuan dari kegelapan. (Khalil Gibran)

Ini yang menjadi acuan untuk tetap bangkit dan terus berkarya sebab hidup adalah kesempatan dari Tuhan, so pergunakan itu dengan baik.


Rally Bistolen

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pusat Penelitian Budaya Helong

Alam dan Suku Helong Kolhua

Arti Sebuah Nama